Analisis Pernyataan Jubir Kemenag Terkait Gus Miftah dan Aturan Speaker di Masjid

News118 Dilihat

OstCash – Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan sorotan terhadap ceramah Miftah Maulana Habiburrahman, yang akrab disapa Gus Miftah, di Bangsri, Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur beberapa hari yang lalu. Sorotan ini muncul karena Gus Miftah mengkritisi surat edaran Kemenag mengenai penggunaan speaker selama bulan Ramadan. Menurut Kemenag, Gus Miftah gagal memahami aturan yang berlaku karena membandingkan imbauan penggunaan speaker dengan dangdutan yang menurutnya tidak terlarang bahkan hingga jam 01.00 pagi.

Juru Bicara Kementerian Agama, Anna Hasbie, menegaskan bahwa Gus Miftah terlihat kurang paham dan membingungkan terhadap surat edaran mengenai pedoman penggunaan speaker di masjid dan musalla. Anna menyarankan agar Gus Miftah lebih memahami isi surat edaran tersebut sebelum memberikan komentar. Menurut Anna, membandingkan penggunaan speaker di masjid dengan dangdutan adalah perbandingan yang tidak tepat dan salah kaprah.

Surat Edaran Nomor SE. 05 Tahun 2022 yang dikeluarkan Kementerian Agama pada 18 Februari 2022, bertujuan untuk menciptakan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama dalam penyiaran di tengah masyarakat yang beragam, baik dari segi agama, keyakinan, latar belakang, dan lain-lain. Edaran ini mengatur penggunaan speaker dalam dan luar di masjid dan musalla. Salah satu poin penting dari edaran tersebut adalah penggunaan speaker dalam saat pelaksanaan Salat Tarawih, ceramah/kajian Ramadan, dan tadarrus Al-Qur’an.

Anna menjelaskan bahwa edaran ini tidak melarang penggunaan speaker. Penggunaan speaker dalam di bulan Ramadan diperbolehkan untuk meningkatkan kualitas syiar. Namun, agar lebih nyaman bagi masyarakat, penggunaan speaker cukup dengan menggunakan speaker dalam. Anna juga menambahkan bahwa edaran ini bukanlah hal baru, karena aturan semacam ini sudah ada sejak 1978 dalam bentuk Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.

Tujuan dari edaran ini bukanlah untuk membatasi syiar Ramadan, tetapi untuk memastikan kenyamanan bersama dalam pelaksanaan ibadah. Anna menekankan bahwa kegiatan tadarrus, tarawih, dan qiyamul-lail sangat dianjurkan selama Ramadan. Namun, jika suara dari pengeras suara terlalu keras dan saling bertabrakan antar masjid yang berdekatan, maka akan mengurangi khidmatnya ibadah tersebut. Dengan mengatur penggunaan pengeras suara, diharapkan suasana ibadah menjadi lebih khidmat dan lebih nyaman bagi jamaah.

Dengan demikian, sorotan Kemenag terhadap pernyataan Gus Miftah menegaskan pentingnya pemahaman yang mendalam terhadap aturan yang berlaku, serta pentingnya memastikan kenyamanan bersama dalam penyelenggaraan ibadah di bulan Ramadan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *