Surplus Dagang dengan China Rp141 M, BI Banggakan Hilirisasi Presiden Jokowi

News306 Dilihat

OstCash – Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa kebijakan hilirisasi nikel yang diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan kontribusi positif terhadap ketahanan ekonomi nasional. Menurut Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sejak penerapan hilirisasi, nilai ekspor Indonesia meningkat. Hal ini disebabkan karena komoditas yang diekspor bukan lagi berupa bahan mentah.

Destry menyampaikan, “Kita harus mengakui bahwa kebijakan hilirisasi yang saat ini diterapkan, terutama di sektor nikel, memberikan dampak yang signifikan. Kita merasakan perubahan tersebut, karena ekspor kita tidak lagi hanya terfokus pada komoditas mentah.” Ujarannya tersebut disampaikan dalam acara Bloomberg Technoz Economic Outlook 2024 di Jakarta pada Rabu (7/2).

Berkat kebijakan hilirisasi, neraca perdagangan Indonesia dengan China secara konsisten mencatat surplus. Nilainya mencapai US$9 juta atau sekitar Rp141,13 miliar (dengan asumsi kurs Rp15.681 per dolar AS). “Sejak penerapan hilirisasi, perdagangan dengan China telah mencatat surplus sejak tahun 2021, 2022, dan tahun lalu mencatat surplus sekitar US$9 juta dari China,” terang Destry.

Meskipun masih pada tahap awal, Destry menilai bahwa dampak positif dari perubahan struktur ekonomi, di mana ekspor beralih dari bahan mentah ke segmen industri pengolahan, sudah mulai terasa.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus sebesar US$3,31 miliar pada Desember 2023. Hal ini disebabkan oleh nilai ekspor yang lebih tinggi daripada impor.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa secara bulanan (mtm), surplus neraca perdagangan naik sebesar 0,90 persen, sementara secara tahunan (yoy) turun sebesar 0,61 persen. “Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 44 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ujar Pudji dalam konferensi pers pada Senin (15/1).

Penurunan surplus neraca perdagangan lebih disebabkan oleh sektor non migas yang mencapai US$5,20 miliar. Komoditas utama yang menyumbang surplus tersebut adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, besi, dan baja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *